Rab. Nov 25th, 2020

Ingat Kembali Janji Jokowi-Maruf Amin Setahun Kemarin

Pengamat politik, Hendri Satrio. (int/ist/lawjustice)

JAKARTA | www.korandesa.co.id – Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Maruf Amin sudah berumur setahun. Berikut adalah rangkuman perjalanan pemerintahan mereka selama setahun ini. Sebagaimana catatan pemberitaan detikcom, pasangan Jokowi-Maruf memenangi Pilpres 2019 mengalahkan rivalnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jokowi-Maruf memenangkan hati rakyat Indonesia dengan janji-janji yang terangkum dalam visi-misi berikut :

Visi : Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong.

Misi :
1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia.
2. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing.
3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan.
4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan.
5. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.
6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga.
8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya.
9. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan.

Terpenuhi ?

Janji-janji Jokowi dinilai belum sepenuhnya dituntaskan. Ini baru setahun, apalagi Pandemi Covid-19 keburu menerjang Indonesia atau lebih tepatnya menerjang dunia.

“Pada awalnya, pemerintahan Jokowi-Maruf dimulai dalam kondisi normal. Tapi sekarang muncul kondisi pandemi Covid-19. Kita mesti fair juga, janji-janji itu menjadi susah dipenuhi,” kata pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio (Hensat), Selasa (20/10/2020).

Pendiri Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) ini menilai, janji-janji itu perlu ditransformasikan dalam konteks baru yakni penanganan Covid-19. Misalnya, membuat masyarakat sejahtera dalam kondisi pandemi dengan penyaluran bantuan yang efektif, kebijakan yang tepat, dan penemuan vaksin yang jitu.

“Kini, yang menjadi pekerjaan rumah adalah soal demokrasi dan toleransi. Jokowi perlu lebih banyak mendengarkan kritikan,” katanya.

Sementara itu, Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, melihat sebagian janji Jokowi sudah beranjak terpenuhi, sebagian lagi belum. Janji soal pembangunan, reformasi di bidang ekonomi, layanan dasar untuk masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan menunjukkan tanda-tanda ke arah yang baik.

“Namun saya melihat ada shift (pergantian) kebijakan Jokowi dibanding periode pertama (2014-2019), yakni narasi soal penegakan hukum yang bebas korupsi dan pemerintahan yang bersih. Dua aspek itu mengalami pelemahan,” kata Arya, dihubungi terpisah.

Dia melihat, Jokowi perlu mendorong penguatan pemberantasan korupsi di sektor swasta, politik dan pemerintahan. Bila itu dibereskan, maka investor juga bakal yakin dan percaya kepada Indonesia. “Adapun di bidang ekonomi, progresnya sangat luar biasa. Teranyar itu adalah UU Omnibus law, UU Minerba,” ungkap Arya. (int/dtc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *